To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice
Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan
To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice
Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan
Sempat banting setir ke dunia jurnalistik, Muhammad Yusron Muchsin akhirnya meraih kesuksesan di dunia dongeng yang dirintisnya sejak nyantri di Pondok Modern Gontor. Keikhlasan menjadi kunci rahasianya.
Menjadi seniman seakan menjadi panggilan hidup Muhammad Yusron Muchsin. Sejak nyantri di Pondok Modern Gontor (1984-1992), lelaki kelahiran Ponorogo tiga puluh tahun yang lalu itu seperti tak lepas dari dunia seni dan hiburan. Ia aktif di komunitas Teater Islam Darussalam (Terisda).
Atraksi serunya waktu duduk di kelas 5 Gontor pernah mempesona teman-temannya sesama santri. Waktu itu, ia menyajikan atraksi sulap dengan menggergaji orang dengan gergaji besai yang besar dan panjang. “Kiai Hasan Abdullah Sahal sendiri yang memastikan bahwa gergaji yang dipakai untuk atraksi itu sungguhan,” kenangnya.
Yusron juga termasuk orang yang ikut mengenalkan seni pantomim dan tarian break dancebreak dancebreak dance dengan musik mulut. Ternyata sambutannya luar biasa. Banyak yang suka,” paparnya.
Dari aksi-aksi itulah nama Yusron menjadi sangat terkenal di kalangan santri Pondok. Ia biasa dipanggil “Yusron PO” (Ponorogo). Sebuah penanda sekaligus penghormatan, karena dialah satu-satunya santri asal Ponorogo yang memiliki kelebihan menirukan suara-suara mirip suara aslinya, seperti suara alam, transportasi, alat perang, binatang, orang tua, nenek-nenek, anak kecil, dan banyak suara lainnya.
Ketemu Didi Petet
Setelah lulus dari Gontor tahun 1992, keinginan Yusron untuk meningkatkan bakat seninya makin kuat, terutama seni pantomim. Waktu itu, tidak banyak komunitas pantomim di Indonesia. Salah satunya, didirikan oleh Seno Utoyo dan Didi Petet. “Saya harus bertemu mereka di Jakarta,” tegasnya.
Yusron akhirnya memutuskan hijrah ke Jakarta. Selain belajar kesenian pantomim, Yusron juga kuliah dan bekerja. Ia masuk Fakultas Ekonomi Universitas At-Tahiriyah sekaligus menjadi penyiar radio At-Tahiriyah. Di sela-sela itu, Yusron terus mencari informasi tentang sosok Seno Utoyo dan Didi Petet.
Akhirnya, ia dapat bertemu dengan Didi Petet di kediamannya di daerah Pamulang, Tangerang, Jawa Barat. “Waktu itu saya menunggu dua hari satu malam di masjid dekat rumahnya, dan bertemu di pagi harinya,” jelasnya.
Gayung pun bersambut. Didi Petet menyambut baik keinginan Yusron untuk belajar seni pantomim. Oleh Didi Petet, Yusron dikenalkan kepada Yayuk, kolega Didi Petet di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Pertemuan Yusron dengan pria yang biasa disapa Mas Yayuk ini ternyata menjadi awak karir Yusron di dunia seni nasional.
Yusron mengikuti latihan teknik-teknik dasar pantomim dengan tekun dan sabar. “Saya pernah belajar berdiri selama berjam-jam di tengah terik matahari demi melatih kekuatan kaki,” papar putra dari Drs H Soejoto Muchsin dan Hj Sitta Sutarti ketika ditemui Gontor di kantornya.
Suami dari Rahma Erfiyani ini juga mengaku banyak belajar dari Ratna Sarumpaet, dengan berlatih dalam Teater Satu Merah Panggung yang diasuhnya. Ia pun sering bermain dengan Ebet Kadarusman untuk mendampingi show-nya di Jakarta maupun luar Jakarta.
Di sela-sela itu, Yusron juga sempat mendirikan kelompok seni “Alibaba”. Bersama 5 temannya, Alibaba pernah tampil di beberapa tempat, seperti Taman Ismail Marzuki, Taman Mini Indonesia Indah, Pasar Seni Taman Impian Jaya Ancol, dan panggilan di beberapa perusahaan.
Tersapu krisis moneter
Tapi, ketika krisis moneter tahun 1997 merontokkan sendi-sendi perekonomian Indonesia, Yusron pun terkena imbasnya. Kontrak kerja untuk mengisi salah satu stasiun televise terpaksa putus begitu saja. Kelompok seni yang ia dirikan juga terkatung-katung dan akhirnya bubar.
Akibatnya, kelima teman Yusron keluar dan mencari jalan sendiri-sendiri untuk tetap hidup. Demikian juga dengan Yusron. Pria yang kini tinggal di daerah Cimanggis, Depok, ini sempat banting setir menjadi penjual pakaian dan bahkan wartawan di Harian Umum Pelita.
Namun begitu, profesi wartawan tidak ia jalankan dengan sungguh-sungguh. Keinginannya untuk berkarir di dunia seni dan hiburan ternyata lebih kuat. “Saya berpikir, kalau hanya jadi wartawan, mubazir dong tiruan suara yang pernah saya temukan di Gontor,” tandasnya kepada Gontor.
Pelan tapi pasti, Yusron kembali mencari dan menemukan dunia lamanya. Ia bergabung dengan Yayasan Bunda Yessi yang diprakarsai Yessi Gusman di daerah Gondangdia, Jakarta Pusat, dan Yayasan Darussalam, Jakarta. Karena sering bertemu anak-anak, Yusron sering memberikan dongeng kepada mereka. Di sinilah Yusron mulai tertarik mendalami seni mendongeng.
Bersama Yayasan Bunda Yessi maupun sendiri, Yusron kerap dipanggil untuk mendongeng di depan anak-anak. Ia sendiri heran mengapa anak-anak bisa tertawa ngakak setiap kali ia bercerita. “Padahal, dongengan saya biasa-biasa saja,” ujar pria yang kini akrab disapa “Kak Ucon”.
Dari situ, karir Yusron terus menanjak. Ketika Toko Buku Gramedia menggelar Seminar dan Pelatihan Dongeng (Maret 2005), Yusron diundang sebagai praktisi dongeng. Acara itu sukses besar. Yusron juga pernah menjadi anggota Dewan Juri dalam Lomba Dongeng tingkat nasional yang digelar di Bentara Budaya Jakarta (Juli 2005). Acara ini juga sukses besar. Hikmahnya, nama “Kak Ucon” semakin dikenal di dunia seni dongeng.
Selain di GRamedia, beberapa perusahaan juga mengundangnya untuk mendongeng, seperti Coca-Cola Indonesia, perusahaan susu Indomilk, Popeye’s di Cibubur dan masih banyak yang lainnya. Di Rumah Sakit Mitra Keluarga-Kelapa Gading, Jakarta, dan Rumah Sakit Dharmais-Jakarta, Yusron juga diminta untuk mendongeng pada anak-anak yang hamper dipastikan tidak punya kesempatan hidup lagi.
Wajah dan aksinya juga sudah masuk stasiun televise. Yusron pernah muncul di RCTI (Selamat Pagi/2005), Metro TV (Head Line News/2007), Trans 7 (Laptop si-Unyil/2007, dalam dua episode: Boneka dan Dongeng), El Shinta TV (Didaktika/2007), dan TV One (Dongeng Keliling/2008, dalam 12 episode). Tahun 2008 ini dongeng karyanya diterbitkan oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dalam sebuah buku. Ia juga telah melatih seni mendongeng sekitar 25 karyawan KPK, yang rencananya akan mengikuti road show dongeng.
Rahasia sukses
Yusron mengaku bersyukur, ketika nyantri di Gontor, masih sempat dididik oleh KH Imam Zarkasyi (almarhum). Dalam waktu yang singkat sebelum beliau wafat (1996), banyak sekali kenangan, petuah yang ia peroleh dari KH Imam Zarkasyi, baik pendidikan agama maupun motivasi-motivasi hidup.
Sebagai santri biasa, ia mengaku bahwa dirinya memiliki kemampuan otak yang pas-pasan. Saat belajar di kelas 2 ia tidak naik kelas, karena sakit keras. Begitu juga saat di kelas 5, ia kembali gagal naik kelas. “Sekolah yang seharusnya saya selesaikan 6 tahun harus molor sampai 8 tahun,” ujarnya.
Kenyataan itu ia terima apa adanya. Walau sedih, semangatnya tetap utuh. Ia teringat nasehat yang sering disampaikan Pak Zar, panggilan hormat untuk KH Imam Zarkasyi. “Berani hidup, tak takut mati. Takut mati, jangan hidup. Takut hidup, mati saja. Hidup sekali, hiduplah yang berarti”.
Menurut Yusron, petuah tersebut sangat dalam maknanya sehingga memotivasi dirinya untuk terus membangun inovasi dalam kehidupan. Demikian juga dalam mendongeng. Bagi Yusron, mendongeng adalah bagian dari hidupnya.
Ada satu rahasia sederhana dari Yusron soal mendongeng: mendongeng itu harus jujur dan ikhlas. Jika mendongeng dijalankan dengan ikhlas dan tidak ada niatan untuk membohongi anak-anak, maka dongengan kita akan diterima. “Anak-anak akan tahu jika mendongeng tidak dijalankan dengan keikhlasan,” jelas ayah dari Syahril Siddiq yang baru berusia 1,6 tahun ini.
“Gubraaag…!” Apakah masih ingat, berapakali kita jatuh-bangun ketika belajar mengendarai sepeda? Saya yakin jawabnya beragam, ada yang sering dan ada yang jarang jatuh karena belakang sepeda dipegangi kakak atau orang tua.
Belajar sepeda ini sering saya analogikan dalam belajar mendongeng. Untuk memulai dongeng melalui pengalaman saya -- dan selalu saya tekankan dalam setiap pelatihan dongeng – untuk tidak membaca buku/makalah teori dongeng. Biasanya seseorang usai membaca buku/makalah, selanjutnya:
1- Dia malah akan "takut" mendongeng, karena merasa tidak bisa melakukan dan mempraktekkan seperti yang disarankan dalam buku.
2- Dia makin penasaran tentang dongeng, dan akan mencari referensi buku/bahan lain sebagai perbandingan. Alih-alih dia akan mendongeng, setelah menguasai 'ilmu'-nya dia akan merasa sudah terpuaskan, tapi...ya itu tadi, tak ada praktek dongengnya.
Ada sedikit cerita. Walau nenek saya tidak sekolah dan tak mampu membaca, saya sangat menikmati saat-saat beliau mendongeng. Kunjungan ke rumah nenek, bagi saya merupakan liburan yang selalu ditunggu. Bila nenek telah mendongeng, semua anak –termasuk saya- pasti terpana. Saat itu, dalam hati, nenek saya memang tidak ada duanya.
Memulai mendongeng yang perlu dilakukan oleh seseorang adalah praktek, praktek, dan…praktek. Niatkan dalam hati untuk mendongeng sebaik-baiknya di depan anak kita, anak tetangga, teman, dan lainnya. “Sebaik-baiknya dongeng” di sini menurut kita sendiri, bukan orang lain. Karena pada dasarnya semua orang bisa bertutur (baca: mendongeng), dan mempunyai kelebihan yang tidak dipunyai orang lain, tergantung tempaan lingkungan, pengalaman, dan pergaulan.
Sukses atau tidaknya mendongeng, bisa dilihat dari tanggapan anak-anak. Apakah mereka senang, terhibur, atau sebaliknya? Dari tanggapan si kecil inilah kita bisa berbenah dengan berkreasi sehingga untuk mendongeng kedua, ketiga, dan seterusnya akan semakin bagus.
Apalagi, menurut saya, mendongeng tidak ada pakemnya. Maka, tidak usah heran bila melihat para pendongeng ternama di negeri ini cara penyampaiannya beragam. Pak Raden dan Kak Andi Yudha mendongeng sambil melukis. Kak Kusumo biasanya mendongeng dengan peraga orang berkostum katak, burung, dll. Putri Suhendro dengan kelembutan keibuannya. Kak Seto dengan suara wibawa dan lagu-lagunya yang merdu. PM Toh dengan tutur kata khas Acehnya.
Cara penyampaian para pendongeng ternama tersebut merupakan kelebihan mereka, sesuai –seperti yang saya katakana sebelumnya-- tempaan lingkungan, pengalaman, dan pergaulan. Dan kita bisa melakukan, karena kita mempunyai kelebihan yang tidak mereka punyai sesuai pengalaman kita.
Kapan buku/makalah teori dongeng penting bagi pendongeng? Bagi saya sebuah buku teori dongeng akan penting bagi pendongeng, setelah dia praktek beberapa kali mendongeng. Beberapa kali ini tak ada patokannya, yang penting kita merasa anak-anak yang kita dongengi dengan cara kita (sekali lagi “cara kita”) merasa terhibur. Saat itulah kita sudah bisa membaca buku teori mendongeng.
Buku teori dongeng merupakan kumpulan dari pengalaman si penyusun selama dia mendongeng. Setelah kita merasa sukses mendongeng, kita bisa mempelajari kekurangan kita melalui pengalaman si pendongeng/penyusun buku. Saya yakin bila ini kita lakukan, banyak anjuran atau tip-tip mendongeng dari pendongeng telah banyak yang telah kita praktekkan. Beberapa cara mendongeng kita, juga bisa jadi perlu penyempurnaan. Dan juga bisa jadi, dalam praktek mendongeng kita ada kelebihan yang tidak dipunyai si pendongeng.
Maka bila mau mulai mendongeng, merupakan kesalahan bila Anda membaca tulisan saya ini. Karena yang harus Anda lakukan praktek, praktek, dan…(yok kita teriakkan bersama-sama) prakteeek…!!!
Hari itu terjadi kesibukan di peternakan. Ya, Kakek Tulus panen. Sejak pagi Bocil Kerbau menarik pedati, mengangkut padi dari sawah. Keluarga merpati dan ayam tentu merasa senang, karena padi tertumpuk bertundun-tundun.
Kesibukan itu berlangsung sampai senja hari. Ketika penghuni peternakan siap tidur, tiba-tiba Kakek Tulus masuk kandang. "Hewan peliharaanku. Mensyukuri panen dan kesembuhan Lintar Merpati, besok malam kita mengadakan pesta!" kata Kakek Tulus. Serentak hewan-hewan bersorak gembira.
Besok harinya, hewan-hewan sibuk berlatih yang akan ditampilkan di pesta. "Wah, saya tak bisa konsentrasi. Nanti malam saya ingin cantik," kata Boni Ayam. Kepada Lintar Merpati yang hinggap dekat situ, ia berkata, "Lintar, kamu ke hutan dong. Pinjemin saya pada burung merak beberapa helai bulunya, untuk mahkotaku."
Tak mau kalah, si Gembul Kambing juga punya permintaan, "Saya pinjamkan jubah pada kuda zebra. Bila kukenakan, wuih...pasti saya gagah."
"Jangan lupa, saya mintakan ramuan pada buyutku ayam hutan, agar suaraku makin nyaring saat bernyanyi di pesta?" pesan Jago si ayam jantan.
Si Lintar jadi terbengong. "E eee...! Kenapa semua bingung. Dalam pesta kita tak perlu berlebih-lebihan. Kita tampil apa adanya," kata Bocil. "Buat baju dari benda-benda di sekitar kita. Penonton lebih melihat pertunjukan dari pada baju."
"Panggungnya gimana?" tanya Moli Kera. "Mmm...kenapa tak menjadikan punggungku sebagai panggung?" kata Bocil. Semua hewan menyetujuinya.
Malam hari di depan peternakan terlihat meriah. Beberapa obor dinyalakan, terlihat indah menimpali sinar bulan purnama. Di atas balai-balai bambu, Kakek Tulus dan Suci menunggu aksi peliharaannya. Hanya saja, mereka ada dimana ya?
"Moooh!" teriak Bocil membuka pintu kandang memulai pertunjukan. Diawali dengan akrobat putar wortel oleh Cici Kelinci di punggung Bocil yang jadi panggung dadakan. Disusul Moli yang main drama bersama Embek dan Gembul. "Terus teruuus...!" teriak Kakek Tulus.
Bersamaan dengan itu rombongan kunang-kunang datang membuat formasi kembang api di angkasa. Hewan kecil pembawa lampu itu diam-diam diundang Gembul untuk pesta. Ia juga mendatangkan pemusik penghuni sawah, katak dan jangkerik.
Pesta makin meriah karena hewan-hewan mengenakan baju lucu-lucu. Penonton makin kagum melihat koor ayam-ayam cilik, mengiringi si penyanyi Jago dan Boni. Tiba-tiba, wow...lihat di angkasa! Lintar bersama teman-teman merpatinya terbang beratraksi seperti kapal terbang, di sela kunang-kunang.
Pertunjukan diakhiri dengan nyanyi bersama diiringi katak dan jangkerik. "Pertunjukan bagus. Sederhana tapi meriah!" puji Kakek Tulus yang berdiri diantara peliharaannya sambil bertepuk-tangan. "Terimakasih semuanya. Sekarang kembali ke kandang, dan...tidur yang nyenyak," kataya mengakhiri malam yang indah penuh kenangan itu.
Nasehat Kakek Tulus:
Pagi itu udara terasa segar. Kupu-kupu bersayap indah bermain di bunga melati dan kemuning yang mekar di depan rumah Kakek Tulus. Saat itu semua mata hewan peternakan tertuju pada Lintar si Merpati yang keluar dari rumah. Ya, akibat pertarungan dengan elang, Lintar terluka. Sayapnya patah dan harus diperban.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Bocil Kerbau saat diajak Kakek Tulus menarik pedati ke sawah, untuk melihat padi yang akan dipanen besok.
"Oh, sudah agak baikan," kata Lintar.
"Lintar, sayapmu sakit? Boleh nggak saya bantu membersihkannya? tanya Cimot.
"Terimakasih kelinci cantik. Lukanya sudah dibersihkan dan diobati oleh Suci kok," kata Lintar tersenyum.
Sejak itu merpati malang itu tidak bisa terbang. Setiap hari ia diajak Boni Ayam berjalan-jalan agar tetap segar. Terkadang Lintar meringis sakit, saat si ayam kecil yang lucu-lucu melompat gendong, mengajak bermain.
Setelah beberapa hari, perban di sayap Lintar dilepas. "Syukur kalau sudah sembuh," kata Moli Monyet senang. Tapi nanti dulu. Merpati itu mencoba terbang, tapi tidak bisa. Dicoba lagi, dan lagi...tetap tak bisa!
Teman-teman Lintar sesama merpati merasa kasihan. Mereka yakin Lintar tak bisa terbang lagi! "Sudahlah Lintar...terima saja kalau kamu sekarang berjalan di darat," nasehat merpati pos.
"Iya, sabar ya," timpal merpati lain.
"Terimakasih perhatiannya. Saya harus bisa terbang, harus...! Karena saya burung!" kata Lintar optimis. Setiap hari, Lintar berusaha terbang. Kadang ia melompat terbang dari atas punggung Bocil, batu, pagar, juga jendela. Hasilnya? Tetap gagal. Bahkan bulu-bulunya rontok, dan tubuhnya kotor oleh keringat serta debu.
Melihat perjuangan Lintar, akhirnya hewan lain juga mendorongnya. Walau dalam hati mereka tak yakin ia bisa terbang kembali.
Kini Kakek Tulus juga membantu Lintar belajar terbang. Ia pegang si merpati, lalu dilempar ke udara. Awalnya rendah, lalu tinggi, dan semakin tinggi. "Ayo jagoanku. Kamu bisa terbang," teriak Suci.
"Terbang! Terbang! Terbang...!" teriak penghuni peternakan bersama-sama memberi semangat.
Ajaib. Teriakan itu membuat Lintar mulai bisa terbang. "Hoi, saya bisa terbang lagiii," kata Lintar. Tapi, bruuuus...grosak. Ia menabrak semak. Kakek Tulus mengambil dan bertanya, "Lintar, kamu siap kalau saya lempar setinggi-tingginya...!
"Ku kur, ku kuuur! Saya siap...!" kata Lintar yakin.
Semua hewan berhitung, "Satu dua tiga...lempaaar!."
Lintar dilempar tinggi ke udara. Ia mengepak-ngepak sayap, agak goyah. Semua hewan tegang. Dan...Lintar benar-benar melesat terbang!
"Horeeee...!" teriak hewan-hewan gembira. Beberapa hewan sampai menitikkan air mata, terharu. Sebagian berlompatan sambil berpelukan. Semua bersyukur, Lintar bisa terbang lagi.
Nasehat Kakek Tulus:
Pagi itu sangat istimewa! Ada tujuh keluarga baru di peternakan. Ya, telur-telur yang dierami Boni si ayam betina semua menetas. “Piyek...piyek...piyek,” seru ayam-ayam kecil yang lucu minta dipeluk induknya. Karena berjumlah banyak, Boni sering kewalahan. Untung Jago si ayam jantan selalu mendampinginya.
“Ayo, anak-anak berbaris ya. Saya mau mengenalkan kamu pada hewan lain,” kata Boni.
“Selamat ya Bon. Anakmu sehat-sehat,” kata Moli Monyet yang lincah sambil melompat-lompat gembira.
“Terimakasih,” jawab si induk ayam sambil memimpin anak-anaknya berkeliling kandang.
“Mooo...kita punya keluarga baruuu,” Bocil Kerbau melenguh keras memberitau hewan-hewan lain.
“Halo adik-adik baruku. Idih, kamu semua menggemaskan,” seru Cici Kelinci membelai ayam-ayam kecil itu satu persatu. Wajah Jago terlihat kelelahan, tapi ia sangat bahagia.
“Nah, kamu sudah kenal semua hewan kan?” tanya Boni pada anak-anaknya.
“Piyek, piyek...piyek,” jawab mereka serentak.
“Sekarang, kita keluar kandang untuk berjemur. Sinar matahari di pagi hari sangat menyehatkan,” kata Boni menggiring mereka keluar.
Ayam-ayam kecil itu kegirangan. Mereka berlari ke sana-ke mari.
“Kukur kukuuur...,” sambut Lintar Merpati dari atas tempat tinggalnya turut senang.
“Kluk kluk kluk...! Anak-anak, lihat nih...ibu dapat cacing,” panggil Boni. Segera sebagian anak ayam berebut cacing itu, yang lain tetap asyik bermain.
Tiba-tiba di langit berkelebat bayangan hitam. Apa itu?
“Mbeek! Mbeeek! Bahaya, ada burung elang! Anak-anak ayam, berlinduuung...!,” teriak Gembul Kambing.
“Petok petok!,” kata Boni memanggil. Ayam-ayam kecil itu berteriak-teriak kebingungan. Sebagian langsung berlindung di bawah sayap induknya, ada yang sembunyi di samping batu besar, tapi ada juga yang tak tau apa yang harus dilakukan.
Terlambat. Elang besar itu menukik, menyambar salah satu anak ayam dan dibawa terbang. Tapi dari sisi kanan, seekor burung menabrak si elang. “Lihat...! Lintar berusaha menyelamatkan ayam kecil,” teriak Jago.
Karena diganggu, si elang mencakar Lintar. Sehingga pegangan pada ayam kecil lepas, dan jatuh ke bawah. Induk ayam segera menyelamatkan anaknya.
Tak mau melepas mangsanya, elang kembali berusaha menyambar anak ayam. Malang. Di bawah, Gembul dan Jago ternyata sudah siap menyambut. Dan segera mereka mengeroyok si elang. “Kaaaak...!” teriak elang kesakitan terbang menjauh. “Ia pasti jera kembali ke peternakan,” pikir Manis si Kucing yang bersembunyi di depan rumah.
Di depan peternakan semua hewan bersorak kemenangan. Tapi, di mana si pahlawan Lintar? “Teman-teman, Lintar terluka!,” teriak Cici dari bawah pagar. “Manis...tolong panggil Suci ya!”
Tak lama, Suci datang bersama Manis. Burung merpati itu dibawa Suci ke dalam rumah untuk dirawatnya.
Nasehat Kakek Tulus: